Sejak pertama terkedip mata
Namamu lewat menitir lidah-lidah basah
Menguis titis madu tumpah di bendang lidah
Itu pun tika aku baru mengenal dunia
Sejak pertama terdengar bicara
Nama mu sudah menghembus bayu senja
Menyusup perlahan mendodoi lena
Bak irama lagu tak pernah pisah
ditiup badai juangmu yang tak pernah punah
Sejak dada dilimpah cinta
Pasang surut badai suasa
Juangmu adalah rintihan bangsa
Rintihmu adalah tangisan ibu dan ayah
Keluhmu adalah durjana Iranun seluruhnya
Kesahmu adalah air mata derita
Tangismu adalah tangisnya anak muda
Tawamu adalah tawa di malam gelita
Biar sendiri atas dunia menghitung politik durja
Biar sendiri atas kapal mengharung samudera
Jiwamu tak pernah pasrah
Atmamu tak pernah muntahkan noda
Biarkan runtunan kasih tak berjawab setiap tika
Biarkan dukungan ibu terlepas dari tangan semakin lemah
Biarkan kilau emas mencucuk kelopak mata
Biarkan dendang raja membungkus jiwa
PA’MIN kembali bertinta
PA’MIN kembali melukis dasar bangsa
PA’MIN kembali menyarung keris senjata
PA’MIN kembali membuai jutaan rasa..
5.00 pagi…Tawau.